...........................................................

Renungan Al Quran

Tampilkan postingan dengan label cerita inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kegalauan hati Part V

Entah mengapa, beberapa pekan ini hatiku berbunga-bunga. Ibarat pohon bertunas kembali, setelah lama meranggas dimusim kemarau. Wuih… indah sekali rasanya. Seperti anak ABG saja… padahal dah ada dua buntut ya… Emang ABG saja yang boleh jatuh hati? Siapa saja boleh, karena sesungguhnya ‘jatuh hati’ itu adalah hak setiap makhluk… Lho kok jadi puitis begini ya…
Semenjak pertemuan itu, sepertinya banyak berubah dalam diriku. Yang jelas, jadi lebih bersemangat menjalani keseharianku. Apalagi di pagi hari, saat bangun tidur, untuk sholat subuh. Aku sering berlama-lama melihat anak-anak yang masih terlelap. Membayangkan suatu saat, akan ada sosok laki-laki dewasa, yang sedang bercanda dengan mereka, menggendong mereka, berjalan bersama, mengantar sekolah. Ah… bayangan-bayangan itu sering membuat aku tersenyum sendiri.
Ibuku pun sering terheran-heran, melihat perubahanku akhir-akhir ini. Termasuk pagi ini, ketika kami sarapan bersama. Ibuku sengaja duduk di kursi makan menghadap aku, menatap aku yang sedang asyik menyuap nasi. Lama dia manatapku, aku pura-pura tidak tahu. Aku mengira, sepertinya akan ada yang akan diucapkan oleh Ibu. Dugaanku tidak meleset.
“Nduk…, hari ini ngajar ya?”
“Inggih Bu, wonten nopo to… ?”
“Aku perhatikan…, kamu kok sekarang ceria terus… tumben”
“Kan sae to Bu, ceria niku…”
“Dari pada cemberut… mending ceria…”
“Dibawa santai saja, hidup itu…”
“Inggih…to Bu…”
Ups… Ibu menanyakan aku, tentang perubahan itu akhir-akhir ini. Aku tidak bisa menutupi, karena ini masalah hati, masalah perasaan seorang wanita. Tetapi, pikirku, belum saatnya aku harus memberi tahu ke Ibu tentang perasaan ini. Maka, aku mencoba untuk tidak memberitahu ke Ibu dulu.
Pagi ini, aku harus bergegas ke kampus, karena ada jadwal mengajar pagi. Sementara aku tinggal Ibuku yang masih belum selesai makan. Aku minta pamit ke Ibu. Aku cium tangannya.
Eits… hampir lupa. Segera, aku ke kamar tempat dua anakku tidur. Masih terlelap rupanya. Aku cium pipi keduanya… Aku bisikkan ke telinga mereka,jadi anak solih ya sayang…
……………
Ups… kursi yang aku duduki di teras rumah ini terasa panas, rupanya terlalu lama aku duduki. Ah… istrirahat sebentar, gumamku. Lalu aku minum teh hangat yang telah dibuat ibuku. Hmm… nikmat juga minum teh buatan ibu. Lalu aku lanjutkan lagi membuat soal ujian di laptopku. Tetapi, tiba-tiba saja terhenti, aku kembali teringat… percakapan terakhir di telepon dengan akh Amin beberapa waktu lalu.
Sudah hampir dua bulan, aku meminta kesediaan ikhwan teman SMA itu untuk menjadi Abi dari anak-anakku. Tetapi belum juga ada jawaban. Aku memahami itu…, pasti berat bagi akh Amin, untuk segera menyampaikan jawaban itu, karena ada istri dan anak-anaknya. Selama ini, aku yakin istri dan anak-anaknya bahagia mempunyai seorang Abi, akh Amin. Tetapi justru karena istri dan anak-anaknya bahagia itulah, maka aku juga ingin menggenapkan kebahagian itu pada anak-anakku. Belum lagi aku mengenal akh Amin sejak SMA. Untuk ukuran anak se usia SMA saat itu, akh Amin tergolong anak yang baik. Walaupun dari keluarga sederhana tetapi Ia banyak kelebihan, dibanding anak seusianya. Kalem, cool, dan cerdas juga. Sehingga, dengan semua kesadaran itu, maka aku telah bertekad, berkeinginan untuk membesarkan anak-anakku berdua dengan akh Amin.
Teringat itu, kemudian aku buka internet di laptopku, di emailku barangkali ada surat masuk dari akh Amin. Ternyata benar, ada surat masuk dari akhAmin. Aku tidak sabar untuk membukanya, dag dig dug juga hati ini, melihat judul emailnya, tentang permintaan itu.

Assalamu’alaikum…

Ukhti Evi yg di Rahmati Allah, sebelumnya minta maaf bhw sampai hari ini ana blm memberikan jawaban permintaan ukhti.
Ukhti Evi ana tahu perasaan anti, tetapi ana lbh tahu perasaan istri ana. Saat ini kami sedang berdiskusi, berwacana dgn istri perihal poligami. Ternyata ana msh blm byk mengerti perasaan hati seorang istri. Krn itu, berilah ana waktu lagi, utk mengambil keputusan itu. Krn ana tdk ingin akan ada yg tersakiti atas keputusan itu. Jadi, mhn maaf, afwan ana belum kasih jwban.
Wassalamu’alaikum…
Sudah aku duga sebelumnya, akh Amin masih berat untuk mengambil keputusan itu. Karena tidak mudah memang. Aku pun segera membalas email itu.
Assalamu’alaikum wr wb
Akhina Amin, aku tahu perasaan istri antum. Krn aku juga seorang istri, seorang wanita. Tdk mengapa antum belum memberi jawaban, krn memang pasti membutuhkan waktu yang cukup untuk membuat keputusan ini.
Afwan sebelumnya, berilah aku kesempatan, kalau boleh aku akan silaturahim ke rumah antum. Aku ingin bertemu dgn istri dan anak-anak antum. Lebih lagi istri antum, aku akan berbagi cerita dengan beliau. Banyak hal yg ingin aku ceritakan. Kalo boleh, Sabtu depan tgl 25 Juni aku akan silaturahim ke rumah antum.
Wassalamu’alaikum wr wb
Sukses sudah aku kirim emailku ke akh Amin, tinggal aku memantapkan doaku saja pada Allah SWT, karena aku masih ada tempat bergantung yaitu Allah SWT. Bahkan, dalam setiap doaku, aku panjatkan pada Allah SWT ‘Sampaikan hajatku ini tepat pada waktunya, sekiranya berjodoh itu datang. Kalaupun tidak, maka berilah yang terbaik padaku. ‘
Berdoa sudah, proses sedang berjalan. Atas jawaban akh Amin melalui emailnya itu, aku yakin, masih ada kesempatan, ada waktu, ada harapan. Jadi…, harapan (nikah lagi) itu masih ada.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kegalauan Hati Part IV

Segelas teh hangat membuat badanku makin berkeringat . Membuat segar tubuh ini. Sesegar wajah istriku.
Setelah membuka sepatu, aku duduk di kursi teras. Sepertinya istri sudah menyiapkan. Sengaja Ia ingin berlama-lama mengajak ngobrol aku.
Sambil duduk manis disampingku, dengan arah muka yang sejajar, istri tidak ingin menatap wajah aku. Membuat aku jadi kikuk, grogi, atau gugup. Ahh… jadi teringat saat ta’aruf dulu.
Tiba-tiba Ia melanjutkan pembicaraan.
“Alhamdulillah…, beruntung aku jadi istri Abi…”
“Coba, kalau nggak… “
“Pasti orang lain yang jadi istri Abi…”
Itulah kalimat pujian istriku, tentu masih dengan senyum ‘kemenangannya’. Kemenangan tidak mungkin aku menerima lamaran Evi. Kemenangan istri lebih dulu menikah denganku.
Sementara aku, masih tergugu dibuatnya, belum mau keluar sepatah kata pun dari mulut ini. Seperti tersihir oleh euphoria kemenangan istri. Persis seperti seorang mad’u yang tersihir oleh taujih Murobbinya.
“Harusnya Bi… waktu Evi minta dinikahi sama Abi… ”
“Abi bilang gini…. ”
"Maaf ukhti, saya sangat mencintai istri dan 4 anak saya, gak ingin menyakiti mereka".
Degg… kalimat ini membuat hatiku semakin terpojok, tidak enak, ternyata selama ini aku belum bisa memahami ‘sisi lain’ seorang istri, yaitu perasaan.
Aku jadi berfikir sendiri. Hmm… itulah wanita, batinku. Yang selalu berbicara dengan perasaan. Sehingga dengan perasaan itu pula mampu ‘memaknai’ setiap detik perjalanan rumah tangganya. Bahwa dalam rumah tangga itu bukan hanya halal haram, atau boleh nggak, tetapi chemistry.
Teringat artikel-artikel poligami yang pernah aku baca, bisa jadi istri sangat memahami bahwa poligami itu halal, tetapi yang belum bisa adalah, bagaimana rasa cinta pada suaminya harus dibagi dengan wanita lain.
Setelah kalimat terakhir itu…, Aku palingkan wajah ke istriku, tanpa kuduga, aku lihat matanya berkaca-kaca, mulai meneteskan air mata. Sepertinya sudah berusaha untuk menahannya, tetapi… pecah juga tangis itu.
Dipeluknya aku…., erat sekali. Istri menangis sesenggukan dipundakku.
Tak terasa meleleh juga air mata saya, akupun ikut menangis…, merasa bersalah, kenapa tidak sejak awal aku menolak permintaan Evi. Ahh… kenapa aku harus melukai dulu perasaan istriku.
“Maaf kan Abi ya… Luv”
“Nggak apa-apa Say… Abi nggak salah kok”
Lama… kami berpelukan. Sambil saling berdiam, aku masih merasa bersalah, karena tidak tegas cepat-cepat menolak permintaan Evi.
Aku juga merasa bersalah, kenapa pula ngomong tentang poligami di depan istri.
Istri juga merasa bersalah, ternyata ada wanita lain yang memperhatikan suaminya. Bisa jadi selama ini istri kurang memperhatian terhadap aku.
Setelah itu…, kami saling berjanji, untuk tidak menyakiti perasaan ini. Berjanji, untuk selalu ‘curhat’ setiap kali ada persoalan. Dan berjanji juga untuk saling memberikan perhatian.
------------------
Sepertinya Sabtu pagi itu menjadi titik balik. Semua perasaan tak menentu itu berakhir. Terjawab juga kegalauan hati yang lain, adalah bukan pada permintaan aneh Evi. Tetapi lebih pada istriku. Selama ini aku masih salah memahami.
Saya berfikir, adalah biasa poligami itu. Tetapi tidak semudah itu bagi istri, ternyata Istri pun seorang wanita biasa. Seorang istri yang tidak ingin pasangan tercintanya, berbagi cinta dengan wanita lain.
Aku jadi berfikir ulang, ternyata tidak mudah juga ber-poligami. Belum lagi aku bukanlah seorang suami yang hebat, bukan ustadz, bukan juga seorang faqih, tetapi hanya lelaki yang Allah takdirkan ikut mengaji di halaqoh tarbiyah

Bersambung .....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kegalauan Hati (part III)

Aku adalah Evi. Bukan siapa-siapa, bukan pula artis, yang ketika setiap disebut namanya, akan banyak orang mengenal. Tetapi aku hanya wanita kebanyakan, atau tepatnya seorang ummahat yang telah dikaruniai oleh Allah SWT dua jundi yang imut dan menggemaskan, itu menurut aku. Anak-anaknya imut, karena Umminya juga imut. Walau imut, aku orang yang tidak bisa duduk manis, berusaha untuk bergerak, apa saja yang bisa kukerjakan, akan aku kerjakan.
Adalah bukan kebetulan, sampai saat ini aku masih mengaji di halaqoh tarbiyah, cukup lama memang. Sehingga banyak teman-teman, dengan bergurau, sering menyebutku sebagai ummahat qowwi, karena saking lamanya. Walaupun tidak aktif-aktif amat, tetapi aku selalu berusaha untuk hadir setiap halaqoh pekanan. Karena telah ‘terpatri di dadaku’ sudah menjadi menjadi ‘kewajiban’ lain, yang harus aku tunaikan.
Mengajar adalah hobiku, sehingga selain sebagai ummahat, aku juga seorang dosen. Maka, harap maklum, tidak sedikit juga ketika ada kegiatan atau ‘amal jama’i yang diadakan jama’ah, aku tidak bisa hadir. Karena masih belajar membagi waktu, antara keluarga, pekerjaan, atau kepentingan jama’ah.
Tetapi tidak terhadap suamiku, walaupun cukup sibuk di kantor, Ia seorang kader yang aktif di jama’ah. Sampai saat sebelum suami meninggal, Beliau diamanahi sebagai bendahara di tingkat kecamatan.
Oh ya…, tentang Abinya anak-anak, telah berpulang ke Rahmatullah 6 bulan lalu, dalam suatu kecelakaan tunggal, sepulang dari kantor, di malam hari. Semoga setiap amal kebaikannya diterima Allah SWT.
Walaupun menjadi single parent, karena roda ekonomi harus berputar, aku tetap bekerja. Sementara anak-anak di rumah dengan orang tua. Sebab, semenjak Abinya tiada, aku putuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuaku. ‘Ada hiburan’, begitu kata kedua orang tuaku atas cucunya, anak-anakku.
Sepertinya, begitu banyak kenikmatan berada dalam jama’ah ini. Di jama’ah ini juga aku mulai mengenal Islam yang sesungguhnya. Begitu juga kenikmatan-kenikmatan yang lain, terutama nikmat ukhuwah, bahkan luar biasa… kalau boleh aku menyebutnya.
Karena ukuwah itu, halaqoh menjadi bagian keluargaku. Sampai-sampai ketika aku punya masalah ‘qodoya’ pun, aku sampaikan lewat halaqoh. Termasuk kali ini, Aku berharap teman-teman liqo’ku menjadi bagian solusi atas ‘masalah’ ini. Sebenarnya, dibilang ‘masalah’ nggak juga, karena justru aku berharap ini menjadi anugerah, atau keinginan…. Ahh… boleh juga dibilang begitu. Atau apalah namanya… yang jelas rasa itu ada.
Terutama Murobbiyah-ku, aku ingin Beliau memberi taujihnya, atau minimal memberi dukungan atas keinginanku. He… he… maksa.
“Afwan, ustadzah… giliran ana…”
“Ana punya qodoya, terkait keluarga…”
“Ana kan… single parent….”
“Mmmmm… eee… ee….”
“Kenapa ukhti…. berat ya qodoya-nya?”
“Justru itu… biarkan kami ikut meringankannya…”
Itulah, kalimat bijak Murobbiyah-ku, menyelaku karena melihat sepertinya aku ragu-ragu.
Lidahku tercekat, aku ragu…., belum lagi nanti tanggapan teman-teman liqo’. Karena bisa jadi, menurut mereka, ini adalah hal yang tabu.
Hampir saja kuhentikan qodoya-ku, tetapi karena bayangan anak-anakku terus menari-nari, maka kusingkirkan saja perasaan tidak enak itu. Bukankah aku juga dikenal sebagai pribadi yang lugas?.
Bayangan anak-anakku itulah yang mendorong, melanjutkan qodoya-ku.
“Dua pekan lalu…, ana ketemu ikhwan. Saat acara MIlad PKS di Stadion GBK”
“Teman lama, ketika SMA”
“Dia sudah berkeluarga… “
“Nah…., kami ngobrol cukup lama…”
“Setelah itu, ana pun tanya nomor HP, email, dan alamat rumah… “
“Terus terang…., mmm..mm… ana jadi ingat anak-anak”
“Apalagi saat masih ada Abinya…”
Kembali aku menghentikan bicaraku... tercekat, suaraku parau… Antara sedih, malu, dan harap. Sekelebat bayangan anak-anak sedang bermain dengan Abinya. Tetapi aku tidak mau terjebak, kesedihan yang berlarut. Bukankah aku wanita yang tegar?
Sementara…, aku lihat wajah-wajah temanku, para ummahat…, seolah bisa menebak isi kepalaku. Mereka seperti merasakan apa yang aku rasakan. Sehingga tampak wajah-wajah tegang, raut muka yang di tahan untuk bersedih. Bahkan raut muka empati.
“MMmmmm… eee… ee..”
“Bolehkan… ana jatuh hati… pada ikhwan itu”
Murobbiyah-ku terhenyak, mungkin mendengar kata jatuh hati. Bagaimana tidak? Seorang single parent, mendekati umur 40, jatuh hati pada suami orang. Tetapi buru-buru dia memahami mad’u-nya. Sehingga terlihat dengan cepat nalarnya berjalan, mencoba merubah raut wajahnya menjadi empati, tidak lagi tampak terhenyak.
“Lho, tapi kan… ukhti baru ketemu sekali ini”
“Belum lagi dia suami orang…”
“Kok, sudah langsung jatuh hati…”
“Justru…. karena dia ikhwan… “
“Justru… karena di suami orang, aku jatuh hati… “
Itulah kalimat terkahir qodoya-ku. Lalu…, Aku tatap wajah Murobbiyah-ku. Tampak wajahnya yang ayu, tersipu. Tetapi tidak terhenyak lagi. Antara malu, empati, atau bahkan heran.
Begitu juga teman-teman, tampak wajah-wajah keheranan. Semua terdiam, terpaku, antara percaya atau tidak. Barangkali, dipikiran teman-teman adalah : Ah… Si Evi ada-ada saja, akhwat yang aneh. Itu pikiran burukku, semoga tidak.
Tetapi menurutku itu bukan aneh, biasa saja, bahkan wajar. Perasaan seorang wanita terhadap Lelaki yang dikaguminya. Walaupun aku wanita tegar, tetapi setegarnya wanita membutuhkan perlindungan. Dan suami adalah orang terdekat, yang akan memberikan perlindungan.
Tidak bolehkan aku punya keinginan? Punya rasa cinta? Ada yang salah? Atau melanggar syar’i? Ah… tidak juga. Bukankah dulu di zaman Rasullah pun tidak sedikit wanita yang melamar pihak lelaki. Bahkan Khadijah RA, sendiri yang meminta seseorang untuk meminang Rasulullah.
Sampai akhir acara liqo’, Murobbiyah, teman-teman masih menyisakan keheranan. Karena menurut mereka ini hal baru, belum pernah dialami. Dan belum bisa membantu, katanya. Sehingga halaqoh di Sabtu pagi itu, masih menyisakan qodoya-ku.
Tetapi, untuk sementara bagiku, plong juga rasanya.
Perasaan yang kupendam dua pekan ini, aku tumpahkan di majelis yang penuh kemuliaan ini. Majelis yang diisi oleh orang-orang solih, yang membicarakan hal-hal yang baik. Maka aku berharap juga akan ada kebaikan atas qodoya-ku kali ini.

bersambung....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kegalauan Hati ( Part II)

Sepekan sudah, hati ini terus berdegub tak beraturan. Semenjak teman SMA-ku, Evi, menyampaikan permintaan anehnya, membuat perasaan ini selalu tidak menentu. Dan uniknya juga, sepertinya mulut ini terkunci rapat, gagu, tidak sampai hati seandainya istri saya harus tahu persoalan yang ada di kepalaku ini. Sehingga itu pula, belum ada keberanian untuk mengungkap kepada kekasih yang telah memberiku 4 orang anak itu. Antara bimbang, galau, ragu, atau apalah namanya yang jelas… cemen, kata anak-anak sekarang.
Biasanya…, istri adalah orang pertama yang aku ‘curhati’ ketika banyak sekali masalah yang menggelayuti pikiranku. Tetapi tidak dengan kali ini, sepertinya aku seorang pecundang yang telah kalah sebelum berperang. Atau karena ini menyangkut perasaan wanita, sehingga aku juga tidak tega melukai perasaan wanita. Apalagi wanita yang spesial dihatiku. Ahh… wanita…wanita, ternyata banyak sekali yang aku tidak tahu tentangnya, walau telah 10 tahun lebih aku dekat dengan seorang wanita sekalipun.
Dalam sepekan ini pula, di setiap qiyamul lail-ku selalu bermunajat kepada Allah, berharap semoga diberikan jalan yang terbaik. Tetapi justru sebaliknya, hatiku makin gelisah setiap kali melihat disampingku, wajah kekasihku, yang setiap itu pula masih terlelap dengan mimpi indahnya. Hmm.. pulas sekali tidurnya. Sepertinya terlalu lelah…, setiap hari harus mengurus dan berjibaku dengan tingkah polah 4 anak-anakku. Bagaimana pula nanti seandainya harus ada ‘wanita lain’ dihati suaminya?. Waduh… makin galau hati ini.
----------------
Di pagi subuh yang dingin, serasa udara hari ini lebih dingin dari biasanya, sepulang dari masjid, diatas sajadah lusuh aku melafadzkan dzikir Al-Ma’tsurat yang disusun oleh Imam Hasan Al-Bana.
Ketika mulutku bergumam pada bacaan do’a Rabithah, tiba-tiba berkelebat cepat melintas di kepalaku, teringat siroh Rasulullah Muhammad SAW saat menerima wahyu yang pertama. Dengan kondisi badan yang menggigil, gemetar, ketakutan yang amat sangat. Rasulullah SAW cepat-cepat mencari sosok istri yang wafa’ (setia), Khadijah, untuk menumpahkan semua perasaannya.
Lintasan tentang kisah Rasulullah itu seolah-olah memberi aku kekuatan, secercah dorongan, untuk segera menumpahkan juga semua kegalauan hati pada kekasihku.
Ku tengok sajadah disampingku, tampak istri masih khusu’ dengan do’anya. Beberapa saat kutunggu menyelesaikan do’anya.
Dengan mengatur nafas, aku mencoba membuka pembicaraan.
“Luv…ada yang ingin Abi sampaikan…”
Aku biasa memanggil kekasihku dengan sebutan Luv…, kependekan dari Lovely. Begitu juga aku, sukanya dipanggil Beib… atau kadang-kadang Say. Biar masih kayak orang pacaran, katanya. Wuih…senengnya kalau dah dipanggil Say. Mau minta jalan kemana juga dianterin…he…he…
“Ya, Beib…, ada yang serius nih…?”
“Abi mau tahu pendapat Luv… ”
“Apa sih…, kok baunya lain gitu… pendapat apa…?”
Kata istri saya…, kalau sedang ada ‘sesuatu yang lain’ pada diriku, atau ada yang aneh pada tingkahku, dia selalu bilang gitu…, baunya lain. Mungkin karena… sudah 10 tahun lebih mendampingiku, rupanya sudah terbaca juga kebiasaanku. Atau memang bau keringatnya yang lain… Wah nggak tahulah. Tapi kata orang-orang itulah chemistry-nya pasangan suami istri.
“Mmm… Luv ingatkan sama Evi… temen Abi yang ketemu di acara milad PKS…”
“Ya, kenapa… Beib?”
“Nah, dia kan… single parent”
“Terus… “
“Dia itu kan… ada keinginan nikah lagi…”
“Bagus dong… “
Sengaja aku mencoba obrolan pagi itu dengan suasana sejuk, sesejuk udara pagi hari, tidak langsung mengarah pada sasaran. Mengajak istri untuk berwacana dulu… tentang poligami misalnya. Sebab kata sebagian ummahat, satu kata ini yang paling tidak disukai. Hmmm…apa istriku termasuk yang nggak suka kata ini ya…?
“Tapi… maunya nikah dengan ikhwan yang sudah beristri… “
“Maksudnya… mau dipoligami gitu…”
“Iya dong Luv… emang ada nama lain ya…”
“Tapi bukan sama Abi kan… ?”
Degg…wah istriku cepat-cepat membuat statemen seperti itu. Menurut tafsiran aku, seolah-olah istriku berkata begini : boleh poligami, asal jangan sama suamiku.
“Ehh…ee… eee…”
Lidah ini kelu rasanya untuk berkata-kata, sehingga tidak sampai juga kata itu keluar dari mulutku.
Belum juga aku sampaikan maksudku, eh… obrolan kami terhenti. Tiba-tiba… istriku berubah rona mukanya, wajahnya terlihat datar. Tidak menampakkan ekspresi wajah yang gembira, bahkan cenderung muram, seperti mendung yang segera akan menitikkan air hujannya. Ekspresi wajah yang bertolak belakang ketika aku mengajak istri untuk makan malam diluar. Ohh… kenapa ini?
Cepat sekali ia menduga-duga isi kepalaku, sepertinya sudah tahu arah pembicaraannya. Walaupun aku belum menyampaikan sepatahpun tentang permintaan Evi. Sehingga secepat itu pula istriku merubah rona mukanya, menunjukkan ketidaksukaannya.
Aku yang memulai pembicaraan tadi, jadi nggak enak hati, kikuk…
Waduh jadi stag lagi nih… pikirku, segera aku alihkan obrolan yang lain saja.
“Ee…. olah raga yuk….”
“Badminton kek, atau… naik sepeda”
“Hari Sabtu kan… family time….”
Aku mencoba memecah suasana stag ini, mengajak istri untuk tarbiyah jasadiyah, olah raga. Tetapi orang yang diajak masih diam, tidak bergeming. Memilih menikmati kesenduannya.
“Abi sendiri aja deh… olah raganya”
“Aku mau bikin kue, buat anak-anak…”
Akhirnya aku tinggalkan istriku sendirian. Aku menuju ke kamar anak-anak. Kubangunkan anakku ‘Afaf dan Difa untuk sholat subuh. Dan segera aku pakai sepatu olah ragaku,…. jogging.
---------------
Sepulang dari jogging, aku langsung disambut oleh kekasihku. Wah sudah sembuh nih…, wajahnya nggak sendu lagi, ada apa lagi ya…? Kok secepat itu…
Belum juga buka sepatu, segelas teh hangat disodorkan ke aku. Segera aku menyeruputnya…
“Alhamdulillah…. segarnya teh ini…”
“Semoga yang membuatnya, mendapat kebaikan dari Allah SWT….”
“Amiin….” Kata istriku
Dengan masih senyam-senyum, aku dibuatnya terbingung-bingung oleh istriku. Tiba-tiba dia melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terhenti.
“Abi… aku sudah tahu…”
“Evi… temen SMA Abi itu… minta dinikahi sama Abi kan…?”
“Ee…ee... iya…”
Aku jadi terbata-bata. Kok… aku jadi seperti orang yang kalah perang gini. Dan sebaliknya, sepertinya senyum istriku adalah senyum kemenangan. Senyum penuh arti. Wajahnya juga berseri-seri, gembira sekali.
“Tapi itu nggak akan mungkin terjadi …”
“Abi kan…. PNS”
Glegg… walah… aku seperti tertohok dengan kata terakhir istriku. PNS…
Memang sebelumnya aku pernah sampaikan ke istriku, bahwa seorang PNS yang akan menikah lagi itu banyak sekali persyaratannya. Misalnya istrinya nggak bisa melahirkan, atau karena sakit yang amat parah sehingga tidak memfungsikan sebagai istri, belum lagi harus ada ijin dari atasan.
Masih bersambung…. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kegalauan Hati

”Eh… ini Amin ya…?”

Wanita kecil berjilbab putih itu menengok ke belakang, menegurku. Sementara aku, yang merasa tidak mengenalnya, melongo, persis seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Sambil terdiam dengan terus mengingat, siapa sih wanita kecil ini? Kenapa dia tahu nama aku? Kenapa pula ada ditempat ini?
“Subhanallah…ini Evi ya…?” Tanyaku dengan ragu-ragu
“Iya…, ini Evi, kok Amin ada disini?”
“Amin ikut milad juga…?”
“Wah…Amin PKS juga to…?”
Bangku di depanku banyak akhwat duduk berderet, bahkan hampir memenuhi stadion ini, dengan semua berjilbab putih, ternyata satu diantaranya ada yang mengenalku, yaitu Evi Susilowati. Atas kuasa Allah, dengan masih merasa keheranan, aku dipertemukan dengan teman SMA-ku. Di stadion Gelora Bung Karno, menjadi saksi aku kembali melihat wajah itu, setelah 15 tahun lebih hilang dari ingatanku, walaupun sebenarnya kami sama-sama ada di Jakarta. Tentunya karena kuasa Allah juga, Evi sekarang sudah berubah. Berbusana muslimah, berjilbab rapi dengan menjuntai lebar.
Disela-sela acara Milad PKS, yang hampir dipenuhi oleh massa dan simpatisan PKS, membuat aku tidak fokus lagi menikmati setiap pergantian acara. Pikiranku bercabang, sebagian kembali teringat masa SMA, terutama saat kelas 3. Waktu dimana saat itu aku bersahabat dengan Evi.
Aku harus berusaha ‘jaim’ sebab ada istri yang duduk manis di sebelahku, tetapi ternyata Evi selalu berusaha untuk menengok-nengok ke belakang, mengajak ngobrol.
“Tinggal dimana sekarang…?”
“Anakmu sudah berapa…?”
“Wah…, Amin, kamu masih seperti yang dulu…”
“Cool, kalem…, dan awet muda ya…”
Rasa ingin tahu Evi mulai kambuh, penyakit menahun sejak SMA, gaya bicaranya blak-blakan. Pertanyaan bertubi-tubi menderaku, aku makin gelagapan. Belum sempat juga aku menjawab satu pertanyaan, sudah ditanya lagi. Ah… dasar Evi ternyata ada yang tidak berubah, dibalik baju muslimahnya.
Waduh… perasaanku terus melayang, memori ingatanku di tahun 90-an kembali bermunculan, bagai jamur yang tumbuh tersiram air hujan. Tetapi untungnya istri yang duduk sambil cemberut, tidak bisa melihat isi kepalaku, sehingga tidak makin membuat sendu saja wajahnya. Cemburu… kali ya.
Evi yang kukenal waktu SMA dulu adalah, seorang siswi yang cerdas, cerewet, dan popular di kalangan anak-anak A1 (Fisika) pada saat itu. Belum lagi bapaknya yang seorang Direktur di salah satu rumah sakit pemerintah di Klaten, sehingga makin mudah dikenal saja.
Wajahnya sih biasa…, tidak secantik Lady Diana, permaisuri Pangeran Charles. Tetapi karena Evi siswi yang cerdas, lincah, jago bahasa Inggris, anak gaul, sehingga banyak orang yang suka berteman dengannya. Ibarat bunga…, banyak kumbang yang menghampirinya. Kumbang itu salah satunya aku.
Awalnya pertemanan, tetapi sepertinya ‘ada yang lain’ dengan pertemanan itu, apa lagi kalau bukan perasaan. Diam-diam aku pun jatuh hati pada Evi, biasa anak SMA, ah… cinta monyet.
Saat itu aku nggak berani mengungkap, maklum beda kasta. Aku anak kampung, yang setiap pagi harus berangkat sekolah jam 6 pagi dari rumah. Belum lagi aku harus berkejaran dengan angkutan umum, colt diesel, adalah andalanku untuk menempuh jarak 20 km dari rumah. Sementara Evi, setiap berangkat dan pulang sekolah dijemput oleh Supir pribadi ayahnya.
Melalui teman karibnya, ternyata Evi tahu gelagatku, bahwa aku jatuh hati padanya, karena memang aku hanya berani mengungkapkan ke seorang teman akrabnya itu, seorang perempuan. Gayung bersambut, Evi juga punya perasaan sama katanya. Dasar saya anak udik kali ya….
Setelah lulus SMA, Evi melanjutkan kuliah di salah satu Universitas Negeri favorit di Jakarta. Karena sebelumnya pernah bercerita, bahwa orang tuanya menyuruhnya untuk melanjutkan kuliah di universitas itu. Walau di Jakarta juga, tetapi aku memilih sekolah yang gratisan, sekolah yang kalau sudah lulus, langsung ikatan dinas dan bekerja menjadi abdi negara, alias Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Semasa kuliah, aku ikut pengajian, dan dalam masa-masa itu aku tidak lagi online dengan Evi. Tetapi pernah suatu saat, pada awal-awal aku ikut pengajian itu, aku bercerita, bahwa dalam Islam itu tidak ada ‘pacaran’, walaupun kami sebenarnya tidak juga dibilang pacaran. Sehingga sejak saat itupun kami seperti tenggelam masing-masing, nggak pernah lagi online.
“Min…, sekarang aku single parent…”
“Abinya anak-anak meninggal 6 bulan lalu…”
Pernyataan Evi menyentakku… kaget, apa hubungannya dengan aku…?
Ditengah hiruk pikuk massa bersautan suara takbir dan berorasi, Evi menceritakan sepenggal kisah hidupnya. Bahwa, saat kuliah dia juga akhirnya ikut mengaji, kemudian setelah lulus, bekerja menjadi dosen di kampus tempat Ia belajar, dan menikah juga dengan seorang Ikhwan.
Evi hidup bahagia dengan suami dan kedua anaknya, sementara suaminya, seorang lulusan S2 luar negeri, menjadi General Manager di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Maka, lengkap sudah kebahagiannya. Tetapi takdir Allah berkata lain, ditengah karir suaminya yang semakin menanjak, sepulang dari kantornya yang sudah larut malam sebuah kecelakaan tunggal terjadi, membuat jiwa suaminya tidak tertolong. Bahkan mobil yang dikemudikan supir pribadinya ringsek, tidak lagi berbentuk. Alhamdulillah supirnya selamat, walaupun harus patah kaki kanannya.
Akhirnya… kami harus berpisah, karena acara milad telah usai, dan tak lupa Evi meminta nomor HP dan alamat email aku yang bisa dihubungi. Dan sebaliknya aku sengaja tidak ingin tahu nomor HP Evi, menjaga perasaan istri yang telah setia mendampingi hampir 10 tahun terakhir ini.
Sejak pertemuan di acara milad PKS itu, Evi semakin sering menghubungi aku lewat HP, email, dan selalu ada saja yang diceritakan, termasuk keinginannya untuk menikah lagi.
“Hah… kenapa harus selalu cerita ke aku? Bukannya Evi punya Murobbiyah…?”
“Afwan akhi… aku cerita juga kok ke Murobbiyah…”
“Termasuk tentang Antum…”
“Maksudnya….?” Aku semakin keheranan…, apa ke ge‘er an ya?
“Akhi… antum tahu kan sifat ana? Nah… ana minta dengan satu permintaan…?”
“Apa tuh…?”
Sepertinya ada hal penting nih…pikirku. Dan terdengar pula suara Evi di HP-ku yang tiba-tiba berubah, lebih rendah, atau bahkan lebih halus.
“Mau kan…, Mmmm… Amin… jadi abinya anak-anaku…?”
Glegg…bagai tersambar petir, permintaan Evi membuat aku tergagu. Rasanya lemas seluruh badan ini. Tetapi cepat-cepat aku bergeliat, mengatur nafas yang mulai naik turun tak beraturan. Menata kembali hati ini, dan berharap semoga ada ‘jalan lain’ karena tidak harus selalu menerima permintaan Evi, teringat waktu SMA, Evi yang selalu bersifat keras kalau mempunyai suatu keinginan.
Aku biarkan…permintaan Evi itu mengambang…, maka aku sudahi pula percakapan itu melalui HP jadulku.
Bersambung...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kisah Karpet

kisah ini adalah bukan pengalaman penulis sendiri, melainkan hasil pencarian lewat google. sengaja penulis menambahkan dalam blog ini agar bisa dibaca setiap saat oleh penulis dan bisa menjadi inspirasi bagi pembaca yang kebetulan mampir di blog ini.

Kisah Karpet
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"

Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”

“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut
pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif,

salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
karena itu
artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV,
karena itu
artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal,
karena itu
artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar,
karena itu
artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,
karena itu
artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan,
karena itu
artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,
karena itu
artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,
karena itu
artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,
karena itu
artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

10. Untuk dst...

(Dari milis Air Putih)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hadits Muslim